Masail fidyah
Pidyah...
Hukum Mengqodho sholat Mayyit
_________________
Penjelasan ;
Masalah qadha terhadap shalat yang ditinggalkan mayyit terdapat Khilafiyah (perbedaan pendapat) dikalangan Ulama.
* Sebagian Ulama menyatakan tidak wajib diqadha
• Sebagian memilih di qadha.
• Sebagian memilih diganti setiap satu shalat dengan satu MUD (62,5 gram)
( فائدة ) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية وفي قول كجمع مجتهدين أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا وفعل به السبكي عن بعض أقاربه ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه كالصوم وفي وجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا وقال المحب الطبري يصل للميت كل عبادة تفعل واجبة أو مندوبة
Barangsiapa meninggal dunia dan padanya terdapat kewajiban shalat maka tidak ada qadha dan bayar fidyah.
Menurut segolongan para mujtahid sesungguhnya shalatnya juga diqadhai berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan lainnya karenanya segolongan imam cenderung memilih pendapat ini dan Imam Subky juga mengerjakannya untuk sebagian kerabat-kerabat beliau.
Ibn Burhan menuqil dari qaul qadim wajib bagi wali bila mayit meninggalkan warisan untuk menshalati ats namanya seperti halnya puasa, sebagian ulama pengikut syafi’i memilih dengan mengganti setiap satu shalat satu mud.
Syekh Muhib at-Thabry berkata “Akan sampai pada mayat setiap ibadah yang dikerjakan baik berupa ibadah wajib ataupun sunah”.
(I’aanah at-Thoolibiin I/24).
- Ada ulama yang mengatakan
من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية
من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه،
Orang yang meninggal dan masih memiliki tanggungan shalat fardhu, maka shalat tersebut tidak bisa di qadha dan tidak bisa dibayarkan fidyah nya,
- Namun ada ulama pula bahwa terdapat ada sebuah bahwa shalat harus diqadha' oleh orang lain, baik si mayyit berwasiat maupun tidak, berdasarkan pada sebuah hadits. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ubadi dari Al-Imam Asy-Syafi'i.
وفي قول أنها تفعل عنه - أوصى بها أم لا ما حكاه العبادي عن الشافعي لخبر فيه،
Dalam sebuah pendapat yang dikatakan oleh al-Imam al-‘Ubadi dari al-Imam asy-Syafi’i, bahwa ; shalat tersebut harus diqadha’ oleh orang lain, baik si mayat berwasiat agar mengerjakan atau pun tidak (berwasiat). Hal ini didasarkan pada sebuah hadits.
وفعل به السبكي عن بعض أقاربه.
Al-Imam as-Subki juga melakukan hal yang demikian pada kerabat-kerabatnya beliau yangp meninggal dunia.
Demikian juga Al-Imam As-Subki melakukan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Al-Imam Ubadi dari Al-Imam Asy-Syafi'i kepada kerabat-kerabatnya yang meninggalkan.
Jadi, ketika kerabat Al-Imam As-Subki meninggal, beliau mengqadha' shalat yang pernah di tinggalkan oleh kerabatnya.
Dijelaskan dalam Syarah kitab Fathul Mu'in ini (I'anah Thalibin), sebagai berikut ;
وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه
"dan menurut pendapat sebagian besar para Mujtahid bahwa bagi keluarganya tetap terkena beban (kewajiban membayar) karena ada hadits riwayat Imam Bukhari dan yang lainnya. Dan ternyata pendapat yang terakhir ini yang dipilih (diikuti) oleh ulama-ulama kami (Syafi'iyah) dan Al-Imam as-Subki juga melakukan hal yang demikian pada kerabat-kerabatnya beliau yang meninggal dunia".
. ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه، كالصوم. وفي وجه ـ عليه كثيرون من أصحابنا ـ أنه يطعم عن كل صلاة مداً
"telah dinukil dari Ibnu Burhan dari Qoul Qadim (Madzhab Asy-Syafi'i) bahwa wajib bagi wali menshalatkan (mengqadha' shalat) yang ditinggalkan mayyit, seperti hal nya puasa. Menurut sebagian besar Ashab kami (ulama-ulama Syafi'iiyah) bahwa sesungguhnya (mengganti dengan) memberi makan, untuks setiap shalat dibayarkan satu mud (6 Ons)".
Dari penjelasan diatas dapat kita disimpulkan bahwa shalat yang ditinggalkan mayyit dapati di bayar dengan beberapa cara, pertama ; Menggantinya dengan shalat (mengqadha' shalatnya) oleh keluarga mayyit, Sedangkan yang kedua ; dengan membayar fidyah (memberi makan) kepada faqir miskin, untuk setiap satu shalat maka dendanya satu Mud (6 Ons beras).
Didalam kitab Syarahnya juga dikatakan bahwa Al-Imam Ath-Thabari mengatakan,
يصل للميت كل عبادة تفعل، واجبة أو مندوبة
"setiap ibadah-ibadah yang dikerjakan akan sampai kepada mayyit baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah"
Dalam Madzhab Ahlus sunnah wal jamaah, (qoul) pendapat yang telah dipilih (Mukhtar), bahwa pahala dari amal, shalat dan yang lainnya yang diberikan insyaalloh akan sampai kepada mayyit.
pidyah..
yang ingin menjalankan fidyah namun biaya terbatas, maka ulama' kita menerapkan tehnis gc sebagaimana yang dicontohkan di atas, dengan tujuan walaupun dana terbatas ketika diterapkan tehnis di atas, maka nilainya akan sangat besar. Contoh : dana fidyah hanya sebesar satu juta rupiah.
- jika diberikan langsung kepada mushollin, maka uang satu juta jika dibelikan beras hanya cukup untuk membeli -+2 karung beras (isi 50 kg) berarti 2 karung=100 kg dan itu hanya cukup untuk memfidyahi -+ 100 sholat fardhu, lalu bagaimana jika lebih dari 100 waktu yang ditinggalkan ?
- jika menerapkan tehnis diputar dulu, biasanya (sudah ma'lum dan adat), tokoh agama atau yang lainnya yang menjalankan fidyah berperan sebagai wakil shohibul musibah untuk mengiqrorkan dan menyerahkan dana fidyah tersebut kepada musholiin, jika yang ikut mensholati ada 40 orang maka uang 1 juta tersebut sama dengan / semitsil 40 juta artinya jika diberaskan akan semitsil dengan -+(4 ton beras).
Sedang untuk yang menjalankan fidyah biasanya mengucapkan demikian kepada masing-masing jama'ah :
MALAKTUKA HADZIHIL QIIMAH LIISQOOTI SHOLAAWATIL MAFRUUDHOTI WA SHOUMIL WAJIBI WALKAFAROTI WAL AIMAANI WANNUDZURI,WAMAA AUJABALLAHU 'ALAIHI/HA BIQODRI HADZIHIL QIIMATI FII JAMI'I UMURIHI/HA
Adapun yang menerima biasa mengucapkan "QOBILTU ALHAMDULILLAH,WAHABTUKA" dan semisalnya.
Bagi orang yang mampu atau kaya secara materi,ada baiknya menyerahkan langsung tanpa diputar. Wallahu A'lam
- I'anatu Al-Tholibin Juz 1 Hal 24 :
ونص عبارة الدر مع الاصل: ولو مات وعليه صلوات فائتة، وأوصى بالكفارة، يعطى لكل صلاة نصف صاع من بر كالفطرة، وكذا حكم الوتر والصوم. وإنما يعطى من ثلث ماله، ولو لم يترك مالا يستقرض وارثه نصف صاع مثلا ويدفعه للفقير ثم يدفعه الفقير للوارث، ثم وثم حتى يتم. ولو قضاها وارثه بأمره لم يجز لانها عبادة بدنية. اه. وكتب العلامة الشامي ما نصه: قوله: يستقرض وارثه نصف صاع أي أو قيمة ذلك. اه.
silahkan difahami, ini ibaratnya :
المجموع شرح المهذب ج 6 ص 119-120
قال الشافعي في «المختصر» في هذا الباب ولا بأس أن يأخذها بعد أدائها إذا كان محتاجاً، وغيرها من الصدقات المفروضات متطوع هذا نصه واتفق الأصحاب عليه، قال صاحب «الحاوي»: إذا أخرجها فله أخذها ممن أخذها عن فطرة المدفوع إليه إذا كان الدافع ممن يجوز دفع الزكاة إليه ، وقال مالك : لا يجوز أخذها بعينها، بل له أخذ غيرها ودليلنا أنها صارت للمدفوع إليه بالقبض، فجاز أخذها كسائر أمواله، ولأنه دفعها لمعنى، وهو اليسار بالفطرة، وأخذها بمعنى الحاجة وهما سببان مختلفان فلم يمتنعا، كما لو عادت إليه بإرث فإنه يجوز بالإجماع.
وقال المحاملي في كتابيه «المجموع» و«التجريد»: إذا دفع فطرته إلى فقير، والفقير ممن تلزمه الفطرة فدفعها الفقير إليه عن فطرته جاز للدافع الأول أخذها، قال: وكذا لو دفعها أو غيرها من الزكوات إلى الإمام، ثم لما أراد الإمام قسم الصدقات ـ وكان الدافع محتاجاً ـ جاز دفعها بعينها إليه، لأنها رجعت إليه بغير المعنى الذي خرجت به، فجاز كما لو عادت إليه بإرث أو شراء أو هبة، قال في «التجريد»: وللإمام أن يدفعها إليه كما يجوز أن يدفعها إلى غيره من الفقراء، لأنه مساو لغيره في جواز أخذ الصدقة.
وقال إمام الحرمين في تعليل المسألة: لا يمتنع أن يأخذها بعد دفعها، لأن وجوب الفطرة لا ينافي أخذ الصدقة، لأن وجوبها لا يقتضي غنى ينافي المسكنة والفقر، فإن زكاة المال قد تجب على من تحل له الصدقة، لأن الزكاة يحل أخذها بجهات غير الفقر، والمسكنة، كالغارم لذات البين، وابن السبيل الموسر في بلده، والغازي، فإنهم تلزمهم زكاة أموالهم ويأخذون الزكاة فلا يمتنع وجوب الزكاة على إنسان وجواز أخذ الزكاة وأما: السرخسي فقال: إذا لزمته الفطرة، فإن فضل عنه صاع وكان فقيراً ليس له كفايته على الدوام فله أخذ فطرة غيره وغيرها من الزكوات ثم إن أخرج فطرته أولاً فله أخذ فطرة غير المصروف إليه، وفطرة المصروف إليه من غير الفطرة التي صرفها، وهل له أخذ الفطرة التي صرفها هو؟ فيه وجهان الصحيح: جوازها. قال: وكذا لو أخذ أولاً فطرة غيره، ثم أراد إخراج فطرة نفسه من غيرها أو منها إلى غير دافعها جاز، فإن أراد صرفها إلى دافعها إليه ففيه وجهان الصحيح: الجواز وهذا الوجه الذي حكاه في المنع شاذ باطل مردود، مخالف لنص الشافعي والأصحاب وللدليل.
فحصل من هذا كله أنه قد يجب على الإنسان الفطرة أو زكاة المال، ويجوز له أخذ الفطرة والزكاة من غيره، سواء أكان الأخذ من نفس المدفوع أو غيره، ومن الإمام أو غيره. وفيه الوجه الشاذ عن السرخسي ..
PERBEDAAN PENDAPAT MENGENAI MENGQADHA SHALAT ORANG YANG TEAH MENINGGAL :
~ Sebagian Ulama menyatakan tidak wajib diqadha
~ Sebagian memilih di-qadha
~ Sebagian memilih diganti setiap satu shalat dengan satu MUD
( فائدة ) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية وفي قول كجمع مجتهدين أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا وفعل به السبكي عن بعض أقاربه ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه كالصوم وفي وجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا وقال المحب الطبري يصل للميت كل عبادة تفعل واجبة أو مندوبة
[ FAEDAH ] Barangsiapa meninggal dunia dan padanya terdapat kewajiban shalat maka tidak ada qadha dan bayar fidyah. Menurut segolongan para mujtahid sesungguhnya shalatnya juga diqadhai berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan lainnya karenanya segolongan imam cenderung memilih pendapat ini dan Imam Subky juga mengerjakannya untuk sebagian kerabat-kerabat beliau. Ibn Burhan menuqil dari qaul qadim wajib bagi wali bila mayit meninggalkan warisan untuk menshalati ats namanya seperti halnya puasa, sebagian ulama pengikut syafi’i memilih dengan mengganti setiap satu shalat satu mud. Syekh Muhib at-Thabry berkata “Akan sampai pada mayat setiap ibadah yang dikerjakan baik berupa ibadah wajib ataupun sunah”. [ I’aanah at-Thoolibiin I/24 ]
Komentar
Posting Komentar